Semenanjung Balkan memanglah sasaran empuk untuk memulai pertikaian. Sudah dua kali perang dunia secara tidak langsung dimulai dari sana. Setelah sekian lama terpuruk, muncullah jalan perdamaian yang tak terkira: pembangunan jalan bebas hambatan. Kini terdapat proyek infrastruktur berupa jalan bebas hambatan antara Beograd di Serbia dan Sarajevo di Bosnia dan Herzegovina. Proyek ini diprakarsai oleh Pemerintah Serbia serta Bosnia dan Herzegovina, dengan keterlibatan Pemerintah Turki. Tidak seperti biasanya Turki mengurusi jalan mengingat lebih terbiasa memugarkan masjid-masjid cagar budaya setempat bekas peninggalan Kesultanan Utsmaniyah yang berada di sekujur Eropa Tenggara.

Gambar 1 Semenanjung Balkan

Tensi seluruh semenanjung kian bersenandung seiring waktu bergulir. Terlebih tensi kian meninggi di seantero Balkan Barat, lebih tepatnya negara-negara pecahan Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Dewasa ini, lantaran daerah otonom Republik Srpska yang dihuni mayoritas etnis Serbia yang tetap menetap di dalam naungan Federasi Bosnia dan Herzegovina yang multietnis semakin merasa dianaktirikan dan diperparah oleh kondisi pemerintah pusatnya yang catut-marut dengan tetap mengadopsi sistem pemerintahan Yugoslavia yang sarat akan deadlock akibat konflik kepentingan antaretnis, belum lagi dibayang-bayangi masa kelam yang sempat terjadi di Srebrenica. Namun, ide tak terduga diduga bisa memadamkan kawasan yang dijuluki “European Powder Keg” ini: membangun jalan bebas hambatan.

Kemunculan ide ini berawal dari ketertinggalan Bosnia dan Herzegovina sejak era Josip Broz Tito memimpin Yugoslavia, dari pembangunan Jalan Bebas Hambatan “Bratstvo I Jedinstvo”, jalan bebas hambatan yang terkenal dibangun oleh rakyat secara harfiah dan membentang dari (Republik Sosialis) Slovenia hingga (Republik Sosialis) Makedonia (Utara) tanpa mengakses (Republik Sosialis) Bosnia dan Herzegovina sekalipun, selesai, hingga Yugoslavia pecah sekalipun, bahkan hingga kini. Ditambah lagi, tensi etnis pun semakin tinggi mengingat entitas Bangsa Serbia di Bosnia (Republik Srpska), sebagai daerah yang cukup tertinggal di Bosnia dan Herzegovina, ingin memisahkan diri. Bisa dilihat pada gambar berikut yang mencerminkan tidak ada perkembangan perangkat transportasi yang berarti untuk jalan bebas hambatan di Serbia serta Bosnia dan Herzegovina setelah runtuhnya hegemoni Yugoslavia, baik yang berbentuk kerajaan, republik federal sosialis, hingga republik federal yang didominasi oleh partai sayap kanan, dengan di sisi lain Kroasia dan Slovenia setelah dibantu oleh Uni Eropa bisa mewujudkan peningkatan aksesibilitas yang cukup pesat dengan bertambahnya panjang dan koridor jalan bebas hambatan di kedua negara tersebut. Begitu pula untuk prasarana berupa kereta api, hamper seutuhnya kedua negara tersebut hanya mewarisi apa yang tersisa dari Yugoslavia.

 

Gambar 2 Jalan Bebas Hambatan Existing di Negara Pecahan Yugoslavia

Gambar 3 Jalur Kereta Api di Seantero Balkan

 

Di sisi lain, laju perdagangan di Balkan Barat kian intens. Hubungan perdagangan antara Turki-Serbia-Bosnia dan Herzegovina semakin menguat. Hal ini merekah lantaran tren ekspor-impor ketiga negara tersebut semakin meningkat setiap tahunnya secara garis besar, dengan valuasi moneter saja, besaran barang ekspor-impor antara Turki dan Bosnia-Herzegovina saja sudah mencapai 1.078.718.337 Mark (Konvertibel) Bosnia pada 2018, setelah pada 2011 hanya mencapai 731.530.449 Mark (Konvertibel) Bosnia, dengan laju inflasi dari 2011 hingga 2018 hanya berkisar sebesar 3,8% untuk Mark (Konvertibel) Bosnia. Begitu pula untuk kasus antara Serbia dan Turki yang mencapai 1.282.363,60 Dollar Amerika Serikat pada 2018, setelah pada 2011 hanya mencapai 588.320,80 Dollar Amerika Serikat, dengan laju dengan laju inflasi dari 2011 hingga 2018 hanya berkisar sebesar 11,6%. Namun, hal unik dijumpai antara Bosnia-Herzegovina dan Serbia itu sendiri, volume ekspor-impor secara keseluruhan bersifat cukup stabil dengan fluktuasi yang cukup minim dan tidak terlalu signifikan. Pada 2018 sudah mencapai 3.979.404.338 Mark (Konvertibel) Bosnia, setelah pada 2011 hanya mencapai 3.756.680.182 Mark (Konvertibel) Bosnia. Belum lagi terdapat tren kenaikan pergerakan orang dalam ketiga negara tersebut secara garis besar, meskipun cukup fluktuatif pula, dalam hal ini wisatawan. Di sisi lain, infrastruktur transportasi yang menghubungkan ketiga negara tersebut masih minim. Begitu pula untuk investasi, dari sisi Turki sendiri cenderung selalu berinvestasi ke Bosnia-Herzegovina dan Serbia setiap tahunnya.

Tabel 1 Volume Ekspor-Impor Bosnia-Herzegovina dan Turki

Tabel 2 Volume Ekspor-Impor Serbia dan Turki

Tabel 3 Volume Ekspor-Impor Serbia dan Bosnia-Herzegovina

Tabel 4 Investasi Langsung Asing oleh Turki untuk Bosnia-Herzegovina

Tabel 5 Investasi Langsung Asing oleh Turki untuk Serbia

Tabel 6 Volume Pergerakan Wisatawan Menuju Bosnia-Herzegovina

Tabel 7 Volume Pergerakan Wisatawan Menuju Turki

Tabel 8 Volume Pergerakan Wisatawan Menuju Serbia

 

Gayung bersambut, akhirnya per bulan ini terdapat inisiasi yang mencengangkan yang mulai dikerjakan. Pemerintah Serbia, Bosnia dan Herzegovina, serta Turki bersepakat untuk membangun jalan bebas hambatan dari Beograd, Ibukota Serbia ke Sarajevo, Ibukota Bosnia dan Herzegovina. Pada 8 Oktober kemarin diadakan peletakan batu pertama yang dihadiri oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan; Presiden Serbia, Aleksandar Vučić; serta 3 Presiden Bosnia dan Herzegovina sekaligus; Šefik Džaferović, Željko Komšić, dan Milorad Dodik; di Sremska Rača, Serbia.

Gambar 4 Peresmian Pembangunan di Sremska Raca

Gambar 5 Peletakan Batu Pertama di Sremska Raca

 

Terdapat dua trase jalan bebas hambatan yang akan dibangun sepanjang Beograd-Sarajevo. Trase pertama yakni trase jalan yang membentang via timur laut Sarajevo dan akan menghubungkan Beograd-Sarajevo via Bijeljina, kota besar kedua di daerah entitas Republik Srpska dan kota besar kelima se-Bosnia dan Herzegovina. Sedangkan trase kedua yakni trase jalan yang membentang via timur Sarajevo dan menghubungkan Beograd-Sarajevo via Uziče, kota bersejarah (titik awal gerilya Partisan Yugoslavia) di Serbia. Uniknya, trase pertama diajukan oleh Bosnia dan Herzegovina, sedangkan trase kedua diajukan oleh Serbia, lantas Turki menyetujui kedua trase tersebut. Selain itu, terdapat juga rencana 133 jembatan dan 53 terowongan di Bosnia dan Herzegovina serta 62 jembatan dan 22 terowongan di Serbia untuk menghubungkan kedua ibukota dengan kedua trase tersebut.

Gambar 6 Koridor Rencana Jalan Bebas Hambatan Beograd-Sarajevo

 

Untuk pendanaan proyek tersebut, baik Serbia maupun Bosnia dan Herzegovina akan sangat bergantung kepada Turki. Seluruh proyek tersebut membutuhkan biaya sebesar 3,41 milyar euro (setara 54 triliun rupiah). Skema pendanaan yang ditetapkan Serbia ialah peminjaman 250 juta euro (setara 4 triliun rupiah) kepada Exim Bank, Bank asal Turki sedangkan sisanya akan ditalangi oleh anggaran dalam negeri. Sedangkan di pihak Bosnia dan Herzegovina masih belum pasti, meskipun terdapat desas-desus Pemerintah Turki akan menawarkan pinjaman serupa. Hal ini mencerminkan soft power Turki di Semenanjung Balkan merekah.

Gambar 7 Perundingan Proyek Jalan Bebas Hambatan Beograd-Sarajevo

 

Untuk pembangunan di Serbia sendiri, terdapat beberapa kontraktor yang akan menuntaskan proyek tersebut. Terdapat Taşyapı, kontraktor asal Turki serta konsorsium antara Bechtel, kontraktor dari Amerika Serikat, dan ENKA, kontraktor asal Turki juga yang akan mengerjakan proyek tersebut sepanjang koridor di daerah Moravia, Serbia Barat. Sampai saat ini belum diketahui kontraktor manakah yang akan dipilih untuk menyelesaikan pembangunan di sisi Bosnia dan Herzegovina mengingat baru dilakukan pembangunan dari Sremska Rača, Serbia ke Kuzmin, Serbia.

Gambar 8 Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Seksi Sremska Raca-Kuzmin

 

Menurut Zorana Mihajlović, Menteri Konstruksi, Transportasi, dan Infrastruktur Serbia, adanya jalan bebas hambatan sepanjang 290 km tersebut bisa memangkas waktu tempuh dari Beograd ke Sarajevo atau sebaliknya dari lima sampai enam jam menjadi dua jam saja. Menurutnya pula, jalan bebas hambatan ini akan menstabilkan Balkan Barat seutuhnya. Selain itu, menurut Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Turki, adanya jalan bebas hambatan tersebut bisa mengeratkan hubungan bilateral Serbia serta Bosnia dan Herzegovina. Bahkan, tak tanggung-tanggung Milorad Dodik, salah satu presiden di Bosnia dan Herzegovina, berujar bahwa 8 Oktober kemarin merupakan hari bersejarah untuk kawasan tersebut (Balkan Barat).

Gambar 9 Zorana Mihajlovic

Gambar 10 Recep Tayyip Erdogan

Gambar 11 Milorad Dodik

 

Pada dasarnya, kebijakan tersebut cukup tepat jika ditinjau secara teoretis. Menurut, Choy Peng Ng, Teik Hua Law, Shaw Voon Wong, dan S. Kulanthayan dalam publikasinya yakni “Relative improvements in road mobility as compared to improvements in road accessibility and economic growth: A cross-country analysis”, setelah menganalisis 60 negara yang di dalamnya termasuk Bulgaria, Kroasia, dan Rumania yang juga satu kawasan, meningkatnya aksesibilitas yang diwakilkan oleh rasio aksesibilitas terhadap mobilitas akan beriringan dengan meningkatnya ekspor, sehingga meningkatkan perekonomian negara tersebut. Pun hal tersebut senada dengan yang diutarakan oleh Cesar A. V. Queiroz dan Surhid Gautam dalam publikasinya yang berjudul “Road Infrastructure and Economic Development: Some Diagnostic Indicators”. Untuk negara berkembang seperti Serbia serta Bosnia dan Herzegovina, semakin padat densitas jalan terhadap penduduk, semakin meningkat pendapatan negaranya dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju seperti Jerman dan Inggris Raya.

Grafik 1 Pendapatan Nasional Bruto vs Kepadatan Jalan Terbangun

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa jalan bebas hambatan tersebut mempunyai prospek yang sangat besar dalam menstabilkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Balkan Barat, wa bil khusus Bosnia-Herzegovina dan Serbia. Perlu pengawalan realisasi agar sasaran yang dicapai bisa terwujud seutuhnya.

Leave a Comment