Pelarangan Penggunaan Alat Tangkap Cantrang

Posted on Posted in Uncategorized

Latar Belakang

Sebagai negara berkembang, perkembangan industri di Indonesia merupakan usaha jangka panjang dalan menopang perekonomian nasional. Perkembangan industri ini memasuki era globalisasi dengan berbagai tantangan seperti MEA dan sebagainya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dilihat dari sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Sumber daya alam yang sangat potensial dengan kondisi geografis Indonesia adalah sektor perikanan dan kelautan.

Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia. Berdasarkan fakta tersebut, sektor kelautan dan perikanan memiliki peran yang strategis dalam pembangunan perekonomian nasional, terutama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan bahan pangan dan bahan baku bagi industri, sumber penerimaan devisa, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penyediaan bahan pangan dan bahan baku bagi industri.  Namun, potensi yang begitu besar tersebut tidak diikuti dengan jumlah nelayan yang ada. Secara keseluruhan jumlah nelayan di Indonesia diperkirakan sebanyak 2,17 juta  atau hanya 0,87 persen dari jumlah tenaga kerja Indonesia. Menurut survei BPS (Badan Pusat Statistik) hasil sensus 2003-2013, jumlah nelayan tradisional turun dari 1,6 juta menjadi 864 ribu rumah tangga. Sementara nelayan budidaya justru naik, dari 985 ribu menjadi 1,2 juta rumah tangga. Menurunnya jumlah nelayan ternayata tidak berpengaruh terhadap volume perikanan di Indonesia. Semakin majunya kapal dan peralatan laut yang canggih yang mulai digunakan oleh para nelayan di Indonesia menyebabakan volume perikanan tetap meningkat. Hal itu membuat volume produksi perikanan terus bertambah setiap tahunnya yang dapat dilihat pada grafik berikut.

1

Volume Produksi Perikanan Tahun 2009– 2014 (Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014)

 

Akan tetapi, tidak semua nelayan memiliki alat-alat yang canggih dalam menangkap ikan. Masih terdapat alat-alat tradisonal yang digunakan ketika melaut. Salah satu alat penangkapan ikan tradisional yang digunakan nelayan di Indonesia adalah cantarang. Hal inilah yang akhir-akhir ini menimbulkan permasalahan baru didunia perikanan Indonesia.

 

Deskripsi

  • Cantrang adalah alat penangkap ikan berbentuk kantong terbuat dari jaring dengan 2 (dua) panel dan tidak dilengkapi alat pembuka mulut jaring.
  • Bentuk konstruksi cantrang tidak memiliki medan jaring atas, sayap pendek dan tali selambar panjang.
  • Rata-rata ukuran mata jaring cantrang yang digunakan adalah 1,5 inchi, dimana hal ini tidak sesuai dengan Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 02 Tahun 2011 bahwa ukuran mata jaring cantrang yang diperbolehkan berukuran lebih dari 2 inci.
  • Komposisi tangkapan cantrang antara lain ikan patek, kuniran, pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi, kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.
  • Larangan penggunaan alat tangkap cantrang diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
  • Jaring cantrang merupakan salah satu dari modifikasi trawl. Saat ini, sedang berkembang pesat berbagai modifikasi trawl dengan ukuran yag lebih kecil di berbagai daerah. Belum adanya standar baku penamaan termasuk standar baku desain dan konstruksi alat tangkap trawl telah menstimulasi kemunculan nama-nama lokal sebagai kamuflase untuk menghindari Keppres Nomor 39 Tahun 1980 tentang Pelarangan pengope rasian Trawl.
  • Sampai saat ini telah teridentifikasi ada 9 nama lain dari trawl yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah mencapai lebih dari 20.000 unit. Kesembilan nama lain dari trawl adalah dogol, pukat tepi, otok, trawl mini, payang alit, sondong sambo, lampara dasar, jaring arad, dan cantrang.

 

Masalah yang terjadi

  • Ribuan nelayan yang tergabung dalam Front Nelayan Bersatu (FNB) berunjuk rasa di depan Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta untuk meminta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mencabut larangan penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti cantrang dan jaring pukat (trawl).
  • Susi menegaskan tidak akan mencabut aturan tersebut karena dinilai sudah tepat. Sebenarnya, Pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 39/1980 telah melarang jaring trawl karena bisa membahayakan ekosistem laut, dan kembali ditegaskan melalui Undang-Undang Nomor 45 tahun 2010 tentang Perikanan

 

Sikap terhadap pelarangan cantrang:

Pro

  1. Merusak dan menguras sumber daya perikanan, karena menangkap semua jenis ikan, besar dan kecil mulai dari dasar laut.
  2. Penangkapan ikan yang sesuai ketentuan dilakukan agar panen ikan stabil.
  3. Mengganggu kelestarian ikan karena mata jaring cantrang yang kecil menyebabkan ikan muda yang masih berpotensi untuk tumbuh dan bertelur dapat ikut terjaring.

 

Kontra

  1. Mematikan mata pencaharian nelayan.
  2. Cantrang digunakan karena dianggap alat yang paling efektif untuk nelayan dengan modal kecil.
  3. Dengan menggunakan cantrang, ikan-kan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish dapat dengan mudah ditangkap, termasuk juga jenis-jenis udang (shrimp trawl, double ring shrimp trawl) dan juga jenis-jenis kerang.
  4. Menurut para nelayan, luas area sapuan cantrang terbatas dan tingkat pengadukan dan penggarukan dasar perairan relatif kecil. Jaring cantrang tidak mempunyai kemampuan untuk bergerak saat menyangkut benda-benda dasar berukuran besar, seperti batuan karang sehingga tidak mengganggu ekosistem dasar yang biasanya merupakan tempat pemijahan ikan.

 

Solusi dari Menteri Kelautan dan Perikanan

  • Menyiapkan posko di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membantu nelayan yang ingin mengganti alat cantrang dengan alat tangkap ramah lingkungan, yaitu gillnet millenium.
  • Pemilik kapal cantrang akan dibantu dipertemukan dengan pihak perbankan yang ingin memberikan kredit senilai minimal Rp200 juta dalam rangka penggantian alat tangkap itu.
  • Melakukan pendampingan kepada nelayan sampai seluruh alat tangkap cantrang berhenti digunakan, terutama kepada nelayan kecil atau tradisional yang tidak memiliki pengetahuan cukup atau modal banyak untuk mengganti cantrang dengan alat tangkap yang baru. Pendampingan ini juga bertujuan agar nelayan dapat mengoperasikan alat tangkap yang baru di daerah yang tepat.
  • Untuk nelayan yang menggunakan kapal ikan di bawah 10 gros ton (GT), posko telah memberikan pelayanan khusus pada 4-7 Oktober, agar nelayan kecil bisa paham dan tidak kebingungan lagi harus mengganti alat tangkap cantrang dengan alat tangkap yang baru.
  • Bagi pemilik kapal cantrang yang memiliki utang lama maka pihak perbankan juga diharapkan bisa membantu untuk direstrukturisasi utangnya serta diberi utang baru untuk menggantikan cantrang.
  • Dilakukan pengukuran ulang terhadap kapal ikan tanpa dikenai biaya apapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *