Pembangunan Waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah
Waduk Kedung Ombo merupakan waduk terbesar di Jawa Tengah. 5268 KK di 7 kecamatan di kota Sragen, Boyolali, dan Grobogan harus dipindahkan untuk pembangunan waduk. Mungkin banyak yang lupa atau malah tidak tahu tentang kasus ini, tapi yang jelas saya ingat karena Waduk Kedung Ombo dijadikan contoh kasus “Transmigrasi Bedol Desa” saat jaman pelajaran IPS atau Geografi SD/SMP dulu.

Pada tahun 1985 pemerintah merencanakan Pembangunan Waduk Kedung Ombo. Pembiayaannya berasal dari Bank Dunia, Bank Exim Jepang, dan APBN. Proses konstruksi dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989.
Waduk mulai diairi pada 14 Januari 1989. Pada tanggal 18 Mei 1991 waduk diresmikan oleh Presiden Soeharto dan warga tetap menuntut hak atas ganti rugi tanah yang layak. Pada saat diresmikan, masih tersisa 600 KK yang bertahan karena ganti rugi yang diterima sangat kecil. Mereka mendapat Rp 250,00/m² dari ganti rugi yang dijanjikan: Rp 3.000,00/m². Ditambah teror, intimidasi, dan kekerasan fisik yang dialami akibat perlawanan terhadap proyek tersebut. Pemerintah memaksa warga pindah dengan tetap mengairi lokasi, akibatnya warga yang bertahan terpaksa tinggal di tengah genangan air.
Pembangunan Waduk Nipah, Madura
Waduk Nipah dibangun dengan latar belakang untuk memenuhi kebutuhan air daerah pesisir utara Sampang. Studi kelayakan dimulai sejak tahun 1973. Namun, proses konstruksi terkendala oleh pembebasan lahan. Bahkan, pada September 1993 terjadi peristiwa tertembaknya 4 orang warga saat demonstrasi penuntutan pembebasan lahan. Kala itu, isu pembangunan waduk sudah sampai skala nasional.
Sekarang, proses konstruksi waduk sudah selesai. Namun, masalah Waduk Nipah pun bukannya sudah selesai. Rencana pengoperasian awal pada September 2011 masih terhalang oleh 38 hektar tanah yang belum terbebaskan.
TRANSFORMASI SIDELACOM
Bukan, bukan alay. Memang tulisannya seperti itu karena SIDELaCOm merupakan sebuah akronim. Rencana pengembangan suatu proyek konstruksi berlandaskan pada langkah-langkah SIDELaCOm (Standar Perencanaan Irigasi). SIDELaCOm sendiri merupakan kependekan dari :
- Survey
- Investigation
- Design
- Education
- Land acquisition
- Construction
- Operation and maintenance
Pada awalnya, pengembangan proyek dilandaskan pada langkah SIDCOm, SIDELaCOm tanpa proses Education dan Land acquisition. Namun Bank Dunia mensyaratkan terselesaikannya permasalahan sosial yang terjadi selama masa pengembangan konstruksi di suatu daerah. (Keterangan : Bank Dunia membiayai Pembangunan Waduk Kedung Ombo) Oleh karena itu Education dan pembebasan lahan yang terstruktur dimasukkan dalam langkah pengembangan untuk meminimalisasi kasus sampingan seperti yang terjadi di pendahuluan tulisan. Sehingga terciptalah langkah SIDELaCOm yang banyak ditulis di textbook sekarang.
Lalu, seberapakah pentingnya langkah Education dalam pengembangan suatu proyek? Seperti apa pula implementasi dari Education?
Seharusnya proyek yang sedang direncanakan dan akan berjalan, bukan hanya dianalisis sebatas Cost/Benefit Ratio saja. Kalau seperti itu jadinya, bangun saja mal sepenuh kota dan lihat hasilnya seperti mal di kota asal saya dan teman saya. Sepi. Mana pernyataan yang kata kuliah Kapsel: Infrastruktur sebagai penggerak roda ekonomi? Apa infrastruktur seperti itu yang ingin dihasilkan? Infrastrukstur yang hanya akan berakhir sebagai puing bangunan belaka?
Infrastruktur harus membawa manfaat bagi masyarakat sekitar dan dapat bertahan sesuai dengan desain dan usia layannya. Para insinyur tidak boleh memaksakan kehendak pribadi atas perencanaan infrastruktur, karena saat para insinyur pencipta infrastruktur sudah meninggal pun, masyarakat akan tetap hidup dengan karyanya. Hidup dan berbagi ruang hidup. Jadi, kalau masyarakat tidak mengerti, bagaimana bisa? Kalau kearifan lokal tidak dimasukkan dalam salah satu latar belakang dan dasar pembangunannya, apa yang diharapkan insinyur agar masyarakat ikut menjaga nantinya?
Di sinilah peran langkah Education. Diharapkan pada saat langkah ini dilaksanakan, para insinyur dan masyarakat saling mengerti kebutuhan dan keinginan satu sama lain. Insinyur mengerti dan paham kearifan budaya lokal yang dianut oleh masyarakat. Dalam langkah Design, kearifan lokal dimasukkan sebagai salah satu parameter desain, misalnya. Hal itu yang terus menerus di-education-kan pada masyarakat. Sehingga tahapan berikutnya yaitu Land acquisition diharapkan dapat berjalan lancar karena masyarakat mengerti untuk apa infrastruktur dibangun di atas lahan rumah mereka dan pada akhirnya merasa ikut memiliki sehingga dapat ikut menjaganya.
Sumber:
- Standar Perencanaan Irigasi, 1986, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Pengairan
- Wikipedia: Kasus Kedung Ombo
- http://api.or.id/2011/02/10/waduk-nipah-madura-segera-dioperasikan/
- Gambar: http://kedungombo.blogspot.com/2009/11/waduk-kedungombo-waduk-terbesar-di-jawa.html
Penulis : Zharina Ashri